Belajar Dahulu, Beli Mesin Kemudian (1)
Membuat froyo (frozen yoghurt) ternyata gampang, singkat, dan praktis. Tertarik untuk usaha? Ada baiknya Anda belajar dulu, baru membeli mesinnya.

Melihat penampilan sebuah ruko di Kalimalang, Bekasi Barat, – sekarang pindah dan berlokasi di Jl. Kasuari Raya No. 148. Rt. 006 / Rw. 02, Perumnas I, Kayuringin Jaya, Bekasi 17144 – Anda pasti tak akan mengira kalau bangunan tersebut menyimpan peralatan ‘ajaib’ pembuat es krim dan froyo. Di tengah maraknya tren froyo di kalangan masyarakat, khususnya anak muda, tempat ini bisa menjadi surga bagi penggila yoghurt. Padahal, jika diperhatikan, sepintas bangunan ruko ini tidak secanggih dan seramai toko-toko penjual froyo yang biasanya menampilkan warna-warna yang cerah ceria khas remaja.

Di lantai dasar, pengunjung akan langsung bisa menikmati pemandangan stand es krim dan beberapa alat pembuat es krim dan froyo. Tapi, namanya juga showroom penjualan mesin. Jangan harap Anda bisa membeli langsung froyo kesukaan Anda di tempat ini. Yang kerap kali beruntung justru para karyawan di ruko sebelah atau tukang parkir yang sedang bertugas. Karena, tiap mesin bekerja, mereka dijamin kecipratan es krim atau froyo gratisan.

Salah satu pengelola tempat tersebut adalah Hidayat Peje, seorang wiraswastawan alumnus STAN dan UI. Usaha yang mengusung bendera Wiratama Food and Beverage ini menyajikan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi Anda yang hendak memulai bisnis froyo. Dari mesin, bahan racikan, stand usaha hingga kursi dan meja yang akan digunakan di toko Anda kelak. Tak hanya itu, calon pengusaha yang berminat akan diberikan pelatihan dan pendampingan khusus sampai usahanya berjalan. Semua dilakukan tanpa biaya. “Untuk pelatihan, yang penting bahan bawa sendiri. Mereka bisa belajar sampai bisa,” jelas Hidayat. Menurut ayah tiga putra ini, pihaknya hanya menyediakan tempat dan mesin. “Tapi kalau enggak ada bahan, kami juga menyediakan kok,” tandasnya.


Bisnis yang tergolong baru ini pun mulai menunjukkan keberhasilan. Hampir setiap hari ada saja yang ingin belajar membuat es krim atau froyo. Rudi Winoto, Erni Wulan dan beberapa karyawan Wiratama Food and Beverage selalu siap melayani siapapun yang tertarik untuk belajar. “Biasanya kalau akan belajar di sini, telepon dulu. Paling belajar sehari sudah langsung bisa,” sela Rudi, teman sekampung Hidayat yang kini berkongsi membangun usaha ini.

Anti Bau Apek
Menurut Hidayat, membuat es krim dan froyo dengan mesin buatan China ini memang sangat mudah dan praktis. Untuk bisa menjadi mahir, rata-rata setiap orang hanya perlu waktu kurang dari 1 jam. Yang pertama dilakukan adalah mencampur bahan es krim atau froyo dengan air dan mengaduknya selama 15 menit. Setelah itu didiamkan selama 15-20 menit. Kemudian adonan dimasukkan ke mesin. Hanya perlu 20 menit mesin bekerja sampai froyo siap disajikan.
Karena fokus utama usaha Wiratama Food and Beverage ini adalah menjual mesin dan bahan pembuat es krim dan froyo, maka setiap peserta juga dibekali ilmu bagaimana membersihkan dan merawat mesin itu. “Froyo itu, kan, basic-nya susu. Jadi cara membersihkan juga ada aturannya, biar tidak bau apek,” tutur Hidayat. Caranya, setelah stan tutup dan bahan sisa diambil, tabung dan beberapa komponen yang bisa dilepas dibilas dengan air. “Paginya sebelum mesin dipakai, tabung dibilas dulu, biar baunya hilang.”

Hidayat dan teman-temannya juga menyediakan diri sebagai ‘konsultan’ bisnis. Tak sekadar memberikan masukan tentang perhitungan bisnis (lihat boks), mereka juga akan mendatangi pembeli mesinnya untuk melakukan serangkaian pengecekan, mulai dari proses pembuatan sampai tampilan stan. “Kadang, kan, stan tidak ‘kelihatan’ atau kalah dengan stan lainnya. Nah untuk menarik perhatian, misalnya apa perlu dipasang, seperti standing banner atau hiasan biar stan kelihatan lebih eye catching.”

Soal pendampingan memang menjadi perhatian utama Hidayat dan kawan-kawannya. “Usaha yang kami geluti ini, kan, dasarnya UKM, maka kami harus ikut aktif mendampingi.” Pun, dalam proses pendampingan itu, Hidayat tak akan pelit berbagi. “Prinsip kami, memberi sebanyak-banyaknya,” jelas Hidayat yang terinspirasi dari komunitas Tangan Di Atas (TDA) yang diikuti. “Prinsip TDA, kan, lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Soal apa balasannya, biar Tuhan yang mengaturnya. Meski saya anggota pasif, saya mencangkok prinsip mereka bagaimana membagi apa yang kami punya dengan para UKM.”

Tentang perawatan pasca pembelian juga sangat diperhatikan. “Jangan sampai orang tidak dagang gara-gara mesin tak berfungsi atau rusak. Mereka ini, kan, wirausaha. Kalau enggak jualan, berarti tidak ada pemasukan,” sela Rudi, sang teknisi yang jebolan ITS ini. Rudi berjanji, untuk area Jabodetabek, semua keluhan akan ditindaklanjuti maksimal sehari kemudian. “Kalau mesin rusak, kami pinjami dulu. Setelah mesin selesai diservis baru ditukar lagi.”

Sukrisna/Nova
Foto: Ahmad Fadillah/Nova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s